Efek nonton film “bareng” mawa dan nuri jadi pengen
ngomongin lagi.. pindho lagi bertapa..
Dari awal film diputar sampai terakhir film, isinya cuma
“nyacat” ni film.. jelek sih ya kegiatan ini.. tapi aku yakin, nyacat kita
karna kita iri sama hal-hal yang dilakuin di film ini.. oke.aku.yang.iri.
Gimana ga iri kalo isinya tentang jatuh cinta gitu.. antara
kakak dan adik angkatan jurusan teknik dan ini yang bikin mawa mencak-mencak
juga.. kata dia tu cerita memberi harapan palsu ke maba (mahasiswa baru), dan
dia melanjutkan mencak-mencaknya: kuliah teknik tak seindah itu.. aku mah
percaya-percaya aja secara mawa anak teknik..
Di awal cerita kita (aku) sebel sama sifat ceweknya yang
jemek.. setelah itu kelakuan pemeran cewek dan cowok yang cipokan terus.. kita
(aku, mawa dan nuri) tiba-tiba jadi kritikus pertelevisian paling alim sedunia:
ngomong tentang tingkah laku yang jelek yang muncul di tv yang isa dicontoh
anak-anak.. dan juga ngomongin jurusan dan
makul yang ga match: ini cuma mawa yang mudeng..
Ga sampai di sini aja, kita juga salah fokus: nuri yang
memulai dengan lebih kasihan sama ikan yang jatuh gara-gara akuarium dipecah
sama pemeran cewek dibanding pemeran cewek itu sendiri yang diberi kabar langsung
dari pacarnya kalo tu pacar udah tunangan tepat disaat si cewek ulang tahun..
aku yang lebih fokus ke style temen ceweknya.. mawa yang lebih fokus ke
kacamata hitam di pemakaman daerah Jakarta..
Dan berakhir dengan sok bijaknya kita tentang cinta:
semuanya akan berakhir, termasuk cinta, cinta yang indah sekalipun.. jadi
ketika kamu mencintai, beri kenangan yang paling indah yang ga bakal
terlupakan, dan tidak pernah ada penyesalan nantinya..
Semua memang akan berakhir.. aku juga pernah denger kalimat
ini dari nuri.. lanjutan dari kalimat ini macem-macem, dan aku udah tau 2
lanjutan: termasuk penantian; termasuk cinta, yang indah sekalipun.. Cinta itu
lebih spesifik dibanding penantian: penantian cinta ciiiiiiiiehhhh..
Menanti butuh kesabaran.. tapi dalam islam (ustadz yang
bilang): manusia itu ga punya batas kesabaran, yang membatasi itu nafsu manusia
itu sendiri.. yang apalah itu namanya, jadi aku ga bakal pake kalimat itu
karena aku bukan cewek alim bingit.. aku mau mencoba melihat “menanti” dari
sisi baik saja (hal yang jarang aku lakuin)
Ketika kita menanti, dan terus menanti, Tuhan akan
memberikan yang kita nanti-nantikan itu.. tapi ga semua yang Tuhan beri sama
seperti yang kita ingingkan.. tapi Tuhan jauuuuuh lebih tau apa yang kita butuh
dibanding kita sendiri.. oke kalimat ini terlalu (sok) dalem banget.. pada
intinya, tidak ada salahnya menanti apa yang kita percaya.. tapi Tuhan, pasti!,
dengan caraNya, yang kadang kita sendiri ga (kurang) peka, akan memberikan yang
terbaik buat kita.. tergantung cara kita menyikapinya.. yap, dan aku mulai
bingung apa yang aku tulis barusan..
Temenku, rian, pernah bilang: Tuhan akan memberikan
keindahan buat kita, tapi terserah Dia memberikan dalam bentuk cash/kredit..
Dan kita sebagai makhluk ciptaanNya yang paling sempurna
hanya bisa menanti.. dan dalam menanti itu harus ada ikhtiar dan tawakal,
berusaha dan berdoa..
*paragraf terakhir lebih ke nasehat khusus untuk penulis
yang sedang galau*