“aku yang itu”,
aku dan Prisia berbisik bersamaan. Itu yang dimaksud adalah laki-laki yang baru
masuk di kelas kuliah umum. Hari pertama masuk kelas di kuliah umum, yang
pertama kali kita lihat bukan dosen kece yang pinter banget tapi tetap rendah
hati, melainkan dua sosok laki-laki yang masuk kelas bersamaan. Dan Tuhan
memang baik. Itu-nya aku dan itu-nya Prisia adalah dua orang yang berbeda.
Itu-nya aku alias Adit adalah laki-laki yang berambut menutup telinga, t-shirt
ditutup jaket yang lengannya dilipat sampai siku, celana jins gombrong, sandal,
kacamata, wajah yang sedikit sendu, dengan tinggi sekitar 170cm. Itu-nya Prisia
alias Vano adalah laki-laki berambut spike,
shirt pendek garis, celana jins pensil, sepatu, dengan wajah sangat ceria. Mereka
curi mataku dan Prisia di hari pertama kuliah umum.
Pertemuan berikutnya,
cuma Adit yang datang. Dan pertemuan itu juga semakin membuat aku mabuk
kepayang.
Hari itu, entah pakai
kekuatan apa dosen sadar kalau jumlah mahasiswanya jauh lebih sedikit dibanding
jumlah tandatangan di buku absen. Karena itu, dosen mengabsen layaknya cara
absensi anak SD. Satu persatu mahasiswa kuliah umum dipanggil. Sampailah dosen panggil
Stefanus Ekavano Kurniawan. Enggak ada yang angkat tangan.
“siapa yang tanda
tangan di sini?” tanya Pak Chris.
Ada satu orang
yang dengan tegas angkat tangan dan mengaku tandatangan di nama Vano. Pak Chris
mengapresiasi kejujuran orang itu dengan enggak marah. Beliau cuma bilang perbuatan
itu enggak diulang lagi. Orang itu yang enggak lain enggak bukan adalah Adit,
sambil tertunduk mengatakan, “iya pak.”
I like you, I like everything about you
From your head to your toes
Even each of your small actions
From your head to your toes
Even each of your small actions
Jay Park - Joah